HabibAli bin Abdurrahman Assegaf meninggal dunia ,Jumat (15/1/2021). Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf meninggal dunia di Rumah Sakit Holistic Purwakarta, Jawa Barat. Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf meninggal berselang sehari meninggalnya Syekh Ali Jaber. Kabar berita duka tersebut disampaikan melalui Twitter, Habib Husein Ja'far (@Husen BiodataHabib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Nama : al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf. Lahir : Jakarta, Tahun 1945. Istri : Syarifah Tuffahah binti Abdullah Al Haddad. Putra/ Putri : Syarifah Zahro, Habib Ahmad pimpinan Majlis Annurul Kasysyaf, Habib Muhammad, Syarifah Zainab, Habib Alwi, Syarifah Aisyah, dan Habib Toha KataMutiara Habib Abdurrahman Assegaf. 6. Karomah. 7. Referensi. 1. Riwayat Hidup 1.1 Lahir. Habib Abdurrahman Assegaf adalah seorang ulama besar, wali yang agung, imam panutan dan guru besar bagi para auliya al-'arifin. Beliau dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut pada 739 H. Ibunya bernama Aisyah binti Abi Bakar ibnu Ahmad Al-Faqih Al HabibAlwi bin Abdurrahman Assegaf Larang Umat Masuk Ansor-Banser, Alasanya Karena Ini Budi Arista Romadhoni Minggu, 20 Maret 2022 | 11:01 WIB Ilustrasi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). kWKNa. Daftar Isi Profil Habib Abdul Qadir bin Alwy Assegaf1. Kelahiran2. Wafat3. Pendidikan4. Kisah Pesahabatan5. Teladan6. KaromahKelahiranHabib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf lahir pada tahun 1241 H, di Seiwun, Habib Abdul Qadir bin Alwy As-Segaf sakit, salah seorang putranya yang bernama Umar mengusahakan kesembuhan dengan cara bersedekah atau yang Abdul Qadir yang mengetahui hal tersebut, beliau langsung mengatakan, “Jangan merepotkan diri, karena Malaikat Maut sudah dua atau tiga kali mendatangiku,” Dalam sakit itu pula ia sering menyambut kedatangan ahlil ghaib di tengah malam dan berbincang-bincang dengan tersebut berlangsung hampir setiap malam, sampai suatu saat ditemukan secarik kertas di dekatnya yang bertuliskan syair, “Telah datang pada kami, Shohibul Waqt, Khidir dan Ilyas. Mereka memberiku kabar gembira seraya berkata,’Kau dapatkan hadiah serta pakaian. Jangan takut! Jangan khawatir dengan kejahatan orang yang dengki, serta syaitan.”Tidak lama setelah itu, beliau meninggalkan alam yang fana ini tepatnya pada tanggal 13 Rabiul Awal 1331 H 1912 M. Jasadnya yang suci kemudian dimakamkan di pemakaman Bejagung, Tuban. Haul Habib Abdul Qadir biasanya diperingati pada bulan Sya’ban di Jl Pemuda, kecil ia telah dididik secara khusus oleh paman beliau yaitu Habib Abdurrahman bin Ali Assegaf. Beliau selalu diajak berziarah ke tempat-tempat yang jauh dari tempat tinggalnya di Seiwun oleh paman beliau. Dalam berziarah ke tempat para auliya’, ia pun pernah menyaksikan kejadian yang menakjubkan hatinya, yakni saat berziarah ke makam Syaikh Umar Ba Makhramah. Di mana, Habib Abdurrahman ketika di dalam kubah makam Syaikh Umar Ba Makhramah, tiba-tiba Syaikh Umar bangun dari kuburnya dan bercakap-cakap dengan Habib Umar. Habib Abdul Qadir menyaksikan kejadian itu secara yaqadzah terjaga, bukan melalui mimpi.Kisah PersahabatanSejak menginjak usia remaja, Habib Abdul Qadir mulai berteman akrab dengan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Sahibul Maulid Simthud Durar dan Habib Abdullah bin Ali Al Haddad Sahibur Ratib Hadad. Bahkan di akhir umur Habib Abdullah Al Hadad pernah berkirim surat kepada Habib Abdul Qadir yang diantaranya berisi,”Sesungguhnya jiwa-jiwa itu saling terpaut,” Tidak lama setelah itu Habib Abdullah bin Ali Al-Hadad wafat, dan 27 hari kemudian Habib Abdul Qadir juga wafat. Beliau juga mempunyai hubungan yang istimewa dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi Surabaya dan Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdar Bondowoso.Kedekatan hubungan Habib Abdul Qadir dengan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi tidak lepas dari kejadian menimpa Habib Muhammad yang sering kali tidak bisa menguasai diri ketika kedatangan hal keadaan luar biasa yang meliputi seseorang yang datang dari Allah SWT. Dalam keadaan seperti itu Habib Muhammad tidak tahu apa yang terjadi di saat Habib Muhammad kedatangan hal ketika sedang berjalan, kebetulan saat itu Habib Abdul Qadir sedang berada di dekatnya. Melihat keadaan Habib Muhammad yang hampir tidak sadarkan diri, Habib Abdul Qadir segera menyadarkannya, sehingga Habib Muhammad pun sadar dan melihat Habib Abdul Qadir telah berada di berdua akhirnya berpelukan,”Ini adalah sebaik-baik obat,” kata Habib Muhammad dengan raut wajah yang gembira. Sejak itulah, hubungan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi dan Habib Abdul Qadir semakin erat dan saking dekatnya, Habib Muhammad menyatakan bahwa menceritakan tentang keadaaan Habib Abdul Qadir lebih manis dari madu. Kecintaan itu juga oleh Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi diungkapkan dalam syairWahai malam yang penuh cahayaSemua permintaan telah terkabulHari ini aku datang ke Tuban di awal bulanPutra Alwi yang kucintaKelezatannya tiada bandinganDia lah pintu masuk dan pintu keluar kitaObat bagi yang kena segala penyakitDari hatinya memancar rahasia sempurnaSemoga dengan berkahnya, dosa dan salah kita diampuniPenerus BeliauTeladanHabib Abdul Qadir dalam kesehariannya dikenal sebagai pribadi yang ramah tamah, murah senyum dan dermawan, semua orang yang mengenalnya pasti akan mencintainya. Tidak heran bila para auliya’ di jamannya banyak memuji dan mengagungkan beliau, salah satunya adalah Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas, beliau selalu mengunjungi semasa hidup mau pun sesudah wafatnya. Wali Kramat dari Empang, Bogor itu bersyair dengan pujian,”Telah bertiup angin segar dari Kota Tuban….” Auliya lain yang sering mengunjungi beliau adalah Habib Ahmad bin Abdullah Al Attas, Pekalongan dan Habib Abdul Qadir bin BerlobangPernah suatu ketika Habib Abdul Qadir dalam perjalanan pulang dari haji bersama rombongan dengan mempergunakan perahu. Ternyata perahu yang dinaikinya berlubang, air pun masuk menerobos dengan deras ke dalam perahu. Orang-orang panik dan segera mengurasnya. Tapi air yang masuk bukan semakin habis, malah semakin banyak dan memenuhi seluruh perahu hingga hampir tenggelam. Keringat dan air laut berpadu membasahi pakaian yang dikenakan mereka yang tengah berusaha dengan keras menguras air dalam perahu. Para penumpang menangis karena putus hal itu Habib Abdul Qadir segera masuk ke dalam bagasi kapal beserta dua isterinya. Setelah menutup pintu beliau berdoa sambil mengangkat tangannya memohon kepada Allah. Tiba-tiba datanglah empat orang lelaki yang telah berdiri di hadapannya, kemudian salah satunya menepuk punggungnya.”Hai Abdul Qadir! Aku Umar Muhadar,” katanya sambil memperkenalkan tiga orang yang ada disebelahnya, “Ini kakekmu, Alwi bin Ali bin Al-Faqih Al-Muqaddam. Itu kakekmu, Abdurrahman Assegaf dan yang itu Syaikh Abu Bakar bin Salim.”Setelah itu lelaki tersebut menyuruh Habib Abdul Qadir menguras air dan keempat lelaki asing itu pun lalu menghilang. “Apakah kalian melihat empat orang tadi?” tanya Habib Abdul Qadir kepada kedua isterinya. “Tidak,” jawab Abdul Qadir segera keluar dan menyuruh para penumpang untuk menguras kembali air laut yang masuk ke dalam perahu. Tak berapa lama kemudian, perahu besar itu sudah tidak berisi air lagi. Ternyata lubang tadi telah lenyap, papan-papannya tertutup rapat seakan tak pernah terjadi apa-apa Tuntunan dari RasulullahDikisahkan, suatu malam Habib Abdul Qadir bermimpi, dalam mimpinya ia bertemu Nabi SAW tengah menuntun Habib Hasan bin Soleh Al-Bahr. Lalu Nabi SAW menyuruhnya membaca Doa Khidir AS sebanyak 50 kali setiap pagi dan sore. Habib Abdul Qadir merasa bilangan itu terlalu banyak. Ia ingin agar Habib Hasan memintakan keringanan untuknya, belum sempat diutarakan, Nabi SAW bersabda,”Bacalah sebanyak lima kali saja, tetapi pahalanya tetap 50.” Gambaran ini persis seperti lafadz barjanji ketika mengisahkan Isra’ Mi’ itu, Habib Abdul Qadir terjaga dari tidurnya dan membaca doa Nabi Khidir dari awal sampai akhir, padahal dia belum pernah tahu doa tersebut sebelumnya. Ia lalu mencari teks doa itu dan menemukannya di kitab Maslakul Qarib, tetapi di sana ada tambahan dan pengurangan. Sampai akhirnya ia menemukan teks yang sama persis di kitab Ihya’ juz 4 dalam bab Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Imam Ghozali menyebutkan faedah dan pahala yang sangat banyak dalam doa jelaslah bahwa itu termasuk salah satu karamah Habib Abdul Qadir, sebab ia hafal doa yang cukup panjang hanya dengan dituntun Nabi Muhammad SAW. Dalam khasanah dunia pesantren, cara menghafal demikian disebut ilmu paled! atau apal pisan langsung wuledsekali dengar langsung hafal. Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dimakamkan di TPU Lolongok, di Jalan Lolongok, Bogor, Jawa Barat. Berjarak 200 Meter dari makam guru Beliau, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Aththas Habib Empang Bogor. Makam beliau sangat asri dan nyaman untuk membaca doa karena terdapat alas karpet. “Banyak peziarah yang datang kesini”, ujar seorang Ibu tua yang menjadi penjaga makam. Wali Allah yang mengajar tanpa kenal lelah, sederhana, ikhlas, selalu mementingkan kesederhanaan dan disiplin. Kedisiplinan Beliau tidak hanya dalam hal mengajar, tapi juga dalam soal makan. “Walid tidak akan pernah makan sebelum waktunya. Dimanapun ia selalu makan tepat waktu.” tutur Habib Ali bin Abdurrahman, putra Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Mengenai keikhlasan dan kedermawanannya, beliau selalu siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Ketika masih menjadi pelajar, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mejadi murid kebanggaan dan disayang oleh para guru. Beliaulah satu-satunya murid yang sangat menguasai tata bahasa Arab dan acuan bagi murid lain. Tata bahasa Arab adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab-kitab klasik yang lazim disebut “kitab kuning”. Setelah menginjak usia dewasa, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dipercaya sebagai guru di madrasahnya. Disinilah bakat dan keinginannya untuk mengajar semakin menyala. Beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar dan tidak hanya piawai dalam ilmu-ilmu agama, tapi juga melatih bidang-bidang yang lain, seperti melatih kelompok musik dari seruling sampai terompet , drum band, bahkan juga baris-berbaris. Salah satu kisah mengenai karomah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri adalah ketika beliau membuka Majlis Taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990. Sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majlis Taklim itulah, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri bermunajat kepada Allah SWT selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Beliau meneruskan munajatnya. Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang lelaki membawa cangkul. Dan serta merta ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk keperluan Majelis Taklim Al-Busyro. Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri mempunyai putra dan putri 22 orang; diantaranya Habib Muhammad, pemimpin pesantren di kawasan Ceger; Habib Ali, memimpin Majelis Taklim Al-Affaf di wilayah Tebet; Habib Alwi, memimpin Majlis Taklim Zaadul Muslim di Bukit Duri; Habib Umar, memimpin pesantren dan Majlis Taklim Al-Kifahi Ats-Tsaqafi di Bukit Duri dan Habib Abu Bakar, memimpin pesantren Al-Busyro di Citayam. Hal ini sesuai dengan pesan Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri yang menekankan bahwa dirinya tidak mau meninggalkan harta sebagai warisan untuk anak-anaknya. Beliau hanya mendorong anak-anaknya agar mencintai ilmu dan mencintai dunia pendidikan. Beliau ingin kami konsisten mengajar, karenanya beliau melarang anaknya melibatkan diri dengan urusan politik maupun masalah keduniaan, seperti dagang, membuka biro haji dan sebagainya. Karomah Habib Abdurrahman Bin Ahmad Assegaf Bermunajat 41 Hari Temukan Sumber Air Sumber Pemuda Majlis Rasulullah SAW Editor Mas Ahmad Pos terkaitKaromah Foto Mbah Maimoen Zubair Dirasakan Langsung Santri MaduraKisah Unik Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri Saat Bahtsul MasailRahasia Ilmunya Syaikhona Kholil Mengalir Pada Mbah Manab Lirboyo Al Habib Abdurrahman bin Abdullah al-Habsyi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Cikini adalah salah satu ulama generasi kedua dari garis keturunan keluarga al-Habsyi yang telah menetap di negeri Habib Abdurrahman terlahir dari keluarga besar al-Habsyi pada cabang keluarga al-Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib di Semarang. Nasab lengkapnya adalah Habib Abdurrahman bin Abdullah bin Muhammad bin Husein bin Abdurrahman bin Husein bin Abdurrahman bin Hadi bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad al-Ashghar bin Alwi bin Abubakar yang bernama Habib Muhammad bin Husein al-Habsyi adalah yang pertama kali datang dari Hadhramaut dan menetap di Pontianak dan kemudian menikah dengan seorang putri dari keluarga Kesultanan Pontianak. Kakeknya ini pun ikut mendirikan Kesultanan Hasyimiyah Pontianak bersama keluarga catatan pada kitab rujukan “Nasab Alawiyyin” susunan Habib Ali bin Ja’far Assegaf dituliskan, dengan jelas bahwa Habib Abdullah Ayah Habib Abdurrahman adalah seorang kelahiran Hadhramut, Yaman tepatnya di Abdurrahman sering juga disebut sebagai “Putra Semarang” karena selain pernah menetap di Pontianak, Habib Abdullah bin Muhammad al-Habsyi ayah Habib Cikini yang semasa hidupnya memiliki aktivitas berdagang antar pulau, juga pernah menetap di Semarang. Namun dari sebuah tulisan menyatakan bahwa dia menikah pertamakali di naskah juga menyebutkan, ibu Habib Abdurrahman adalah seorang syarifah dari keluarga Assegaf di Abdurrahman juga memiliki hubungan sejarah yang erat dengan Habib Syekh dan Raden Saleh. Diantara sejarah kehidupan Habib Abdurrahman yang didapat dari sejumlah sumber adalah bahwa dia sahabat karib Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih-Surabaya.Hal tersebut diantaranya dicatat dalam catatan kaki Ustadz Dhiya’ Shahab dalam bukunya “Syams adz-Dzahirah”. Selain itu berdasarkan cerita Habib Abdurrahman menikahi Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya yang adalah adik dari maestro lukis Raden karena tidak dikaruniai keturunan, dia pun kembali menikah dengan Hajah Salmah dari Jatinegara. Dari pernikahannya dengan Salmah tersebut kemudian lahir Habib Ali dan Habib Abdul ketika akan melahirkan Habib Ali, Salmah bermimpi menggali sumur yang mengeluarkan air meluap dan membanjiri sekelilingnya. Habib Abdurrahman yang mendengar mimpi istrinya segera menemui Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, meminta pendangan. Menurut sahabatnya itu, mimpi tersebut merupakan pertanda kalau Habib Abdurahman akan menapatkan seorang putra yang saleh dan ilmunya melimpah-limpah memiliki putra yang pandai dalam ilmu agama, Habib Abdurahman juga memiliki banyak murid yang pandai dalam mengembangkan agama Islam, khususnya di wilayah Jakarta. Salah satu murid Habib Abdurahman yang paling tersohor adalah Habib Ahmad Bin alwi Al Hadad yang dikenal dengan Habib Habib Abdurahman wafat pada 1881, jasadnya dikebumikan di belakang Hotel Sofyan, di antara Jalan Cikini Raya dan Kali Ciliwung, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat di tanah pekarangan rumah makamnya tersebut bahkan kemudian didirikan sebuah bangunan sederhana yang dimaksudkan sebagai qubah makamnya. Meski tak seramai makam putranya sendiri, dari waktu ke waktu makamnya kerap diziarahi memang tak meninggalkan catatan yang cukup memadai untuk memaparkan lebih jauh ihwal sosok dan sejarah hidup Habib Abdurrahman. Namun demikian, makamnya, yang sejak dulu terus diziarahi, kedekatannya dengan orang seperti Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Botoputih, Surabaya, perhatiannya yang mendalam terhadapa masa depan putranya, yaitu Habib Ali, terutama dalam hal bekal keilmuan, serta jalinan kekeluargaan yang dia miliki, cukup menjadi indikasi bahwa dia sosok yang saleh yang memiliki perhatian mendalam pada ilmu-ilmu agama dan memiliki kedudukan terpandang satu karomah dari Habib Abdurrahman adalah keberadaan air yang keluar secara deras dari dalam makamnya saat akan dipindahkan. Sehingga namanya pun dikenal dengan Habib pun berduyun - duyun mendatangi makam tersebut, tak sedikit diantara mereka yang mendatanginya untuk keperluan mengambil air tersebut. Dimana diyakini oleh sebagian orang bahwa air itu memiliki khasiat yang istimewa diantaranya untuk mengobati berbagai penyakit. Selain itu akibat keluarnya air yang mengalir deras tersebut pemindahan makam urung dilakukan dan makamnya tetap berada di Cikini, Menteng, Jakarta seorang jamaah majelis dzikir asal Jakarta Barat yang kerap mengikuti pengajian mengaku mendapat berkah dari karomah sang Habib. Dimana saat sumur di rumahnya di bilangan Jakarta Barat mengalami kekeringan, salah satu rekan sesama jamaahnya menyarankan agar dirinya berziarah dan mengambil sedikit air di makam sang Habib dan menuangkannya di sumur miliknya di Jakarta Barat."Alhamdulilah sumur saya yang semula kering bisa kembali berisi air dengan melimpah. Tentunya ini terjadi berkat pertolongan Allah SWT semata bukan karena syirik dengan mempercayai air keramat tersebut," timpal salah satu jamaah. Sumber - Siapa yang tak mengenal dengan sosok ulama Kharismatik yang bernama Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf ini? Berikut biodata dan Ali bin Abdurrahman Assegaf adalah seorang habib yang lahir di Bukit Duri, Jakarta pada tahun 1945 yang kini berusia 75 tahun dikabarkan meninggal dunia pada Jumat, 15 Januari 2021 di Rumah Sakit Holistic Purwakarta, Jawa JUGA Cerita Lengkap Syekh Ali Jaber Jadi Warga Indonesia, Ternyata Sang Kakek Lahir di Lombok GaesPenasaran dengan sosoknya? Simak yuk biodata lengkap umur dan agama dari Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, yang sudah dihimpun Tim dari berbagai sumber untuk Biodata dan profil Habib Ali bin Abdurrahman AssegafNama Lengkap Habib Ali bin Abdurrahman AssegafNama Panggilan Habib Ali AssegafTempat Tanggal Lahir Bukit Duri, Jakarta 1945Umur 75 TahunAgama IslamNama Orangtua Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaf dan Hj Barkah binti Ahmad Pasangan Syarifah Tuffahah binti Abdullah Al HaddadNama Anak Syarifah Zahro, Habib Ahmad pimpinan Majlis Annurul Kasysyaf, Habib Muhammad,Syarifah Zainab, Habib Alwi, Syarifah Aisyah, dan Habib Madrasah Tsaqafah dan ulama-ulama besarProfesi Ulama, Pendakwah, Pendiri Pesantren2. Seorang Ulama dan PendakwahHabib Ali dikenal sebagai seorang ulama kharismatik sekaligus seorang guru dari beberapa ulama di Indonesia. Sosoknya dikenal sebagai pendakwah yang disegani dan disukai banyak Mendirikan banyak peantrenSelain itu, beliau juga dikenal sudah banyak mendirikan pesantren, yayasan dan madrasah, di antaranya Yayasan Al-Afaf di Bukit Duri, Jakarta, Madrasah Tsaqafah Islamiyah, dan Madrasah Guru Habib Rizieq ShihabNggak cuma itu, ternyata Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf juga merupakan guru dari Habib Rizieq Shihab yang sering didatangi untuk berdiskusi dan meminta Nassab Habib Ali bin Abdurrahman AssegafDiketahui, Nasabnya adalah Habib Ali bin Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir bin Ali bin Umar bin Segaf bin Muhammad Al-Qhadi bin Umar bin Thoha Al-Qhadi bin Umar bin Thoha bin Umar ash-Shofi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al- Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbath bin Sayyidina Ali Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As- Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi AlawiyyinShohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Al- Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al- Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam As-Syahid Sayyidi Syabab Ahlil Jannah Sayyidina Al-Husein Rodiyallahu bin Sayyidah Fatihmah Az- Zahra binti Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi JUGA 10 Fakta Menarik Syekh Muhammad Jaber, Kembaran Syekh Ali Jaber yang Akrab Sesama UlamaNah, itulah biodata dan profil dari Ali bin Abdurrahman Assegaf, sosok ulama kharismatik yang meninggal dunia. Pastinya kalian semakin kenal dengan sosoknya kan gaes?

karomah habib alwi bin abdurrahman assegaf